Menjelajah pulau-pulau yang ada di Kei menjadi keinginan saya sejak awal penempatan di Telkom Kandatel Tual. Kei terkenal dengan destinasi wisata pantainya. Gugusan pulau-pulau yang tersusun indah dibaluti dengan serpihan pasir putih nan halus. Mmm, sungguh menggoda. Jika sedang melakukan perjalanan dengan pesawat, sayang rasanya jika tidak menikmatinya dari atas jendela pesawat. Saat ini dari dan menuju ke Tual hanya ada pesawat ATR, tentu hanya bisa terbang dengan ketinggian yang cukup rendah. Di situlah kelebihannya, karena penumpang bisa mencicipi panorama alam di bawahnya. Rasanya ingin mendatangi semua yang dilihat dari atas.
Minggu lalu saya ke Dobo untuk kunjungan kerja, dan giliran ke Saumlaki. Saya tidak sendiri, ada pak Jos (Asisten Manager Sales) yang juga ikut ke sana. Kebetulan beliau memang orang asli Tanimbar (Saumlaki). Sebelum dipromosikan ke Tual, pak Jos adalah spv Plasa Telkom di Saumlaki. Jadi sudah hafal betul seluk beluk Saumlaki karena tujuan kami ke sana untuk survei pemetaan jaringan optik agar masyarakat juga bisa menikmati internet dengan kecapatan tinggi.
Setelah sahur dan sholat subuh, ada notifikasi pesan dari pak Jos kalau sudah waktunya ke Pelabuhan. Staff kantor yang ditugaskan beli tiket mengabarkan kalau loket sudah tutup sejak tadi malam. Jadi kami langsung berangkat ke Pelabuhan, berharap masih ada tiket. Ternyata si gadis juga ikut berlabuh, anak perempuan pak Jos yang lagi kebetulan berada di Tual juga mau ikut ke Saumlaki. Jadi kami bertiga.
Setibanya di pelabuhan, nampak loket juga masih tutup sementara kapal sdh siap untuk berangkat. Kami langsung naik ke dek kapal dan bertemu dengan petugas security serta abk. Mencari tiket dan kamar untuk kami beristirahat. Alhamdulillah masih tersedia. Kamar juga masih ada yang kosong. Saya sendiri dan pak Jos serta anaknya di kamar sebelah. Perjalanan sekitar 18 jam dari pelabuhan Tual ke Saumlaki, tentu tubuh harus istirahat dengan baik. Apalagi saya sedang menjalankan ibadah puasa, meski ada keringanan untuk tidak berpuasa bagi yang sedang safar atau melakukan perjalanan.

Tepat jam 7 pagi, kapal sudah mulai bergerak dan meninggalkan pelabuhan. Di depan kamar kami ada lorong menuju ruang security dan abk, berjejer barang penumpang juga penumpang yang tidak mendapatkan kamar tidur. Saya tanya salah satu rombongan itu, “Mas dari mana dan mau kemana?”. “Mau ke Surabaya, bang. Kami dari Timika. Mudik lah”, jawab mas yang masih asyik dengar musik (mungkin) karena headset masih nempel di telinga. “Wah, jauh juga ya?”, candaku sambil senyum ke mereka. Dari obrolan singkat itu mereka di atas kapal harus bersabar, karena jadwal tiba di Pelabuhan Tanjung Perak sekitar tanggal 25 Mei nanti. Sementara kami hanya 18 jam. Kalau kami saja bosan, apalagi mereka ya.

Saya coba ke dek tengah, ternyata banyak juga penumpang lainnya tidur di depan pintu akses ke luar. Saya keluar sejenak karena di kamar juga agak pengap, ber-AC tapi lebih enak sepertinya jika menghirup udara bebas. Pintu yang harus selalu tertutup tapi nampak diganjal dengan balok. Pantas saja di ruangan di dalam kurang dingin. ‘Pintu harap ditutup kembali. Ruangan ber-AC’, begitu tulisan yang nempel di pintu keluar/masuk. Saya keluar barangkali ada ‘sesuatu’ di luar sana. Dan dugaan saya benar, ternyata banyak juga penumpang yang tidur beralaskan seadanya, bahkan bayi dan anak-anak dirangkul ibunya di atas alas tipis itu. Bahkan ada juga yang asyik tertidur di area terlarang. Karena berbahaya bagi keselamatan. Tapi peringatan itu juga tidak diindahkan.

Masih menikmati udara segar di luar, kemudian saya tanya ke abk lokasi musholla dan kantin. Infonya di dek 6, artinya naik satu tangga. Kamar saya di dek 5. Poliklinik juga di dek 6, posisinya agak ke tengah, sementara musholla di bagian belakang. Kantin di dek 7, persis di atas musholla. Tidak lama kemudian, saya langsung masuk lagi ke kamar. Berharap di luar bisa dapat udara segar, ternyata banyak asap, bukan dari kapal, tapi dari perokok.
Setelah menyelesaikan beberapa halaman ‘bacaan’, ada pengumuman dari ruang kapten jika waktu sudah menunjukkan pukul 12.05 wit dan waktunya sholat zhuhur. Saya dan beberapa penumpang yang ingin menunaikan sholat berjamaah, berbondong-bondong ke dek 6 bagian belakang. Seperti biasa, sholat zuhur dilaksanakan 2 rakaat dan sholar ashar dimajukan atau di-qasar dengan zuhur. Ombak siang itu cukup, nampak dari barisan shaff yang sesekali berayun mengikuti badan kapal yang diterpa ombak.
Kembali ke kamar untuk istirahat dan melanjutkan kembali bacaan tadi.

Sore menjelang magrib, saya dan pak Jos coba ke sisi kanan kapal untuk menikmati sunset sambil menantikan waktu berbuka. Pemandangan indah ke arah barat. Pak Jos menunjuk jarinya ke arah sana dan menjelaskan satu persatu kampung yang ada di pulau tersebut. Salah satunya Larat, yang juga menjadi target lokasi kunjungan kami setelah Saumlaki.
KM. Leuser, 16 Mei 2019

Post a Comment
0Comments