Malam di Saumlaki

0


Malam di Saumlaki

Saumlaki, 17 Mei 2019

Jam menunjukkan 00.10 WIT ketika KM Leuser akhirnya merapat di Pelabuhan Saumlaki.

Malam sudah begitu larut.

Namun pelabuhan justru masih hidup.

Suara mesin kapal perlahan mengecil. Nahkoda kemudian memberikan komando kepada penjaga dan ABK untuk membuka akses keluar-masuk penumpang.

Tangga kapal sudah disiapkan.

Penumpang yang turun diarahkan melalui tangga utama, sementara penumpang yang akan naik dan para buruh pelabuhan menggunakan tangga temporer yang sudah disiapkan oleh pihak pelabuhan.

Lumayan tertib.

Di tengah suasana malam yang sebenarnya sudah seharusnya sepi, saya justru melihat pemandangan yang cukup menarik.

Antusiasme orang-orang yang sedang menunggu untuk naik ke KM Leuser.


Kapal yang Sudah Lama Ditunggu

Saya sempat bertanya kepada Pak Jos.

"Mereka mau ke mana, Pak?"

Jawabannya cukup menarik.

Hampir semuanya berasal dari Buton.

Memang cukup banyak masyarakat pendatang di Saumlaki yang berasal dari Buton.

Bagi mereka, KM Leuser bukan sekadar kapal yang datang dan pergi.

Kapal ini seperti sebuah penghubung.

Menghubungkan Saumlaki dengan kota-kota yang jauh.

Ada yang menuju Makassar.

Ada yang menuju Surabaya.

Dan tentu saja, ada yang hendak pulang ke Buton.

Mungkin bagi kita yang tinggal di kota besar, perjalanan antarkota menggunakan pesawat atau kendaraan lain terasa biasa.

Tetapi bagi masyarakat di wilayah kepulauan seperti Maluku Tenggara dan Maluku Barat Daya, kapal memiliki arti yang jauh lebih besar.

Ia menjadi bagian dari kehidupan.

Menjadi jalan pulang.

Menjadi penghubung keluarga yang dipisahkan laut.

Dan malam itu, saya bisa melihat sendiri bagaimana orang-orang begitu antusias menunggu kapal yang sudah lama mereka nantikan.


Pertemuan Pertama dengan Kacé

Saya turun dari kapal bersama rombongan.

Pak Jos terlihat sibuk menghubungi seseorang yang sejak tadi sudah menunggu di pelabuhan.

Namanya Karel Elmas.

Akrab dipanggil Kacé.

Beliau adalah teknisi yang sudah cukup lama mengabdi di Telkom Saumlaki dan saat itu dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Teritori.

Lima menit kemudian, sosok yang ditunggu akhirnya datang.

Ini pertama kalinya saya bertemu dengannya.

Dan kesan pertama saya cukup kuat.

Saya melihat wajah yang penuh semangat.

Ada optimisme yang terpancar dari raut wajahnya.

Senyumnya hangat.

Cara menyambutnya juga menunjukkan bahwa dia siap menjalankan amanah yang diberikan.

Dalam hati saya berpikir:

"Sepertinya kami tidak salah memilih koordinator."

Sebelumnya, ketika diminta memberikan usulan mengenai siapa yang tepat menjadi perwakilan di Saumlaki, nama Kacé memang beberapa kali terdengar.

Pak Jos pun sempat menceritakan kepada saya tentang sosoknya.

Malam itu akhirnya saya bisa bertemu langsung.

Dan ternyata kesan pertama memang sering kali memberikan cerita tersendiri.


Dijemput Tengah Malam

Yang membuat saya sedikit tidak enak hati, kedatangan kami ternyata disambut cukup ramai.

Ada security yang ikut mengawal.

Rasanya seperti pejabat datang ke daerah.

Padahal saya sudah menyampaikan sebelumnya:

"Tidak usah repot-repot. Rekan-rekan juga perlu istirahat karena besok banyak pekerjaan."

Tetapi namanya juga bentuk penghormatan dari tuan rumah.

Mereka tetap datang menjemput.

Mobil kemudian dibawa keluar dari area pelabuhan.

Dan saya sempat mendengar suara yang sedikit ragu:

"Pak, hanya dijemput pakai pick-up..."

Saya langsung menjawab,

"Iya, itu saja sudah bagus."

Tidak ada masalah.

Karena memang kendaraan operasional yang tersedia di Saumlaki saat itu hanya itu.

Satu unit pickup yang digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional.

Justru dari situ saya kembali diingatkan bahwa bekerja di wilayah seperti Saumlaki memang membutuhkan cara pandang yang berbeda.

Tidak bisa semuanya disamakan dengan kota besar.

Fasilitas terbatas bukan berarti pekerjaan harus berhenti.

Justru di situlah kreativitas dan semangat tim diuji.


Kami meninggalkan pelabuhan.

Perjalanan menuju penginapan tidak terlalu lama.

Sekitar sepuluh menit.

Namun sebelum benar-benar menuju tempat istirahat, kami sempat singgah di ATM.

Bukan karena ada kebutuhan mendesak.

Hanya berjaga-jaga untuk pembayaran tunai.

Di kota-kota besar, mungkin kita sudah sangat terbiasa dengan pembayaran digital.

Top-up e-money.

QR.

Kartu.

Berbagai metode pembayaran tersedia.

Tetapi ketika berada di daerah seperti Saumlaki, kita harus kembali mengingat bahwa tidak semua tempat memiliki fasilitas seperti di kota besar.

Maka uang tunai tetap perlu disiapkan.

Sederhana.

Tetapi penting.


Penginapan di Atas Pantai

Tidak jauh dari ATM, kami tiba di penginapan.

Rate-nya standar.

Tidak perlu terlalu banyak ekspektasi.

Yang penting bisa menjadi tempat beristirahat.

Lagipula, waktu istirahat kami memang tidak banyak.

Beberapa jam lagi sudah masuk waktu sahur.

Kemudian Subuh.

Setelah itu, pekerjaan sudah menunggu.

Saya masuk ke kamar.

Bangunannya berbentuk petak-petak.

Dindingnya terbuat dari lembaran kayu yang disusun rapi.

Sederhana, tetapi justru terlihat menarik.

Saya sempat berpikir, mungkin material kayu masih cukup mudah ditemukan di pulau ini.

Kemudian saya membuka jendela.

Dan ternyata...

bangunan penginapan ini berada tepat di atas pantai.

Saya bisa melihat suasana laut dari kamar.

Ada sedikit rasa familiar.

Pemandangannya mengingatkan saya pada perjalanan ke Dobo beberapa pekan sebelumnya.

Wilayah kepulauan memang punya cara sendiri untuk menghadirkan ketenangan.

Laut.

Angin malam.

Suara yang hampir tidak terdengar.

Dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.


Malam Pertama di Saumlaki

Akhirnya saya duduk sejenak.

Memandang keluar jendela.

Pelabuhan sudah semakin jauh.

KM Leuser mungkin masih berada di sana.

Orang-orang yang tadi menunggu kapal mungkin sudah mulai berangkat.

Sementara saya berada di kamar sederhana, di sebuah penginapan kecil di tepi pantai, di ujung perjalanan malam menuju Saumlaki.

Saya tersenyum.

Ini baru malam pertama.

Besok pekerjaan sudah menunggu.

Akan ada banyak hal yang harus diselesaikan.

Akan ada tim yang harus ditemui.

Tetapi malam itu, untuk beberapa saat, saya hanya ingin menikmati suasana.

Menikmati sepinya Saumlaki.

Mendengarkan angin laut.

Membiarkan tubuh beristirahat setelah perjalanan panjang.

Dan berharap bisa terbangun beberapa jam lagi untuk sahur.

Karena terkadang, perjalanan kerja membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita rencanakan untuk dikunjungi.

Dan justru di tempat-tempat seperti itulah, kita menemukan cerita yang paling sulit dilupakan.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)