Malam di Saumlaki

0

Malam di Saumlaki

Jam menunjukkan pukul 12.10 WIT. KM LEUSER sudah merapat di pelabuhan Saumlaki. Nahkoda kapal sudah memberi komando kepada penjaga dan abk untuk membuka pintu keluar dan masuk penumpang. Tapi sebelumnya, tangga turun sudah disiapkan. Lumayan tertib, karena penumpang yg turun lewat tangga kapal, sementara penumpang yang akan naik dan buruh pelabuhan melawati tangga temporer yang sudah disiapkan oleh pelabuhan.

Melihat antusias penunmpang yang akan naik ke KM LEUSER, sempat saya tanyakan ke pak Jos. Mereka mau kemana? Hampir semua berasal dari Buton. Banyak pendatang di Saumlaki berasal dari Buton. Dan kapal ini memang sudah lama ditunggu-tunggu bagi para pemudik, bukan hanya ke Makassar dan Surabaya, tapi juga yang hendak ke Buton.



Turun dengan tertib meninggalkan badan kapal menuju pintu kedatangan. Pak Jos sedang sibuk menghubungi rekan yang sudah menunggu dari tadi di pelabuhan. Karel Elmas, akrab dipanggil Kacé. Seorang teknisi yang sudah cukup lama mengabdi di Telkom Saumlaki. Kini diberi amanah sebagai Koordinator Terirori. Selang 5 menit akhir datang juga, saya juga belum pernah bertemu dengan sosok Kacé ini. Wah, pertama bertemu saya senang. Dari raut wajahnya terpancar rasa optimis yang tinggi. Saya yakin, kami tidak salah memilih koordinator, sebagai wakil kami di Saumlaki. Karena saat diminta usulan, nama beliau yang sering terdengar. Dan pak Jos sendiri yang sempat menceritakan sosok beliau.

Kedatangan kami juga dikawal security, bak pejabat dari mana begitu. Padahal saya minta tidak usah merepotkan rekan-rekan yang ada. Biar mereka istirahat karena banyak tugas besok yang harus dikerjakan. Mobil diparkir di area pelabuhan. “Pak, hanya dijemput pakai pick-up” terdengar suara sendu agak ragu. “Iya, itu saja sudah bagus”. Karena aset kendaraan saat ini di Saumlaki hanya ada itu, digunakan untuk operasional. 10 menit perjalanan meninggalkan pelabuhan, singgah di ATM untuk antisipasi pebayaran tunai. Mungkin berbeda dengan di kota besar, cukup top-up eMoney uantuk segala kebutuhan, termasuk transportasi dan makanan. Tak jauh dari ATM ada penginapan, rate-nya standar lah. Istirahat paling sebentar, karena waktu sahur dan subuh tinggal beberapa jam saja.

Masuk ke penginapan model petak-petak. Bangunan dari lebaran kayu yang tersusun rapi. Bagus juga desainnya. Bahan kayu mungkin masih banyak tersedia di Pulau ini. Tengok ke luar lewat jendela kamar, ternyata bangunan ini di atas pantai. Suasana hampir sama saat saya berkunjung ke Dobo beberapa pekan yang lalu.

Menikmati sepi malam pertama di Saumlaki. Berharap bisa bangun sahur sebentar.

Saumlaki, 17 Mei 2019

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)