25 Ramadhan 1435H, di Dili

0
Tepat pukul 03.30 tiba-tiba terbangun dari istirahat yang lumayan enak, karena sepulang dari kantor rasanya tubuh perlu rehat sejenak. Tak menyia-nyiakan waktu yang istimewa ini untuk bermunajat kepada Allah, mengadukan segala permasalahan kepadaNya. Sebagai insan yang lemah, tentunya begitu banyak dosa yang telah dilakukan. Masihkah saya bisa berbangga?

Setelah itu, menyiapkan sahur. Tidak seperti biasanya, sahur di Dili cukup dengan minum susu dicampur sereal agar serat terpenuhi untuk puasa sehari. Kangen juga dengan masakan ibu di kampung, "Maa, sudah sahur? Masak apa nih?", tanyaku lewat telpon. Rupanya ayah, ibu & adikku sedang menikmati masakan yang enak dengan sambek terasi kesukaanku. Jadi tambah rindu.
Selanjutnya nelpon ke istriku yang cantik, namun tidak diangkat. Mungkin sedang menyiapkan sahur atau Handphone di-silent. Tiket mudik sudah disiapkan, insya Allah tahun ini bisa kumpul dengan keluarga besar di Bone.

Adzan shubuh agak sayup terdengar di kota Dili, bergegas ke Masjid An-Nur dengan sepeda motor. Dua rakaat berjamaah baru saja selesai, duduk sejenak mendengarkan kuliah shubuh yang penuh hikmah. Ustadz menyampaikan nasihat Rasulullah saw lewat hadits Arbain ke-18, yang pertama bertakwalah kepada Allah di mana pun kita berada. Takwa di masjid, harusnya takwa juga di luar masjid, di pasar, di terminal, di kantor, di mana pun. Yang kedua, iringi perbuatan jahat atau maksiat dengan amal sholeh atau kebaikan, bukan berarti kita berbuat maksiat terus-menerus dan diakhiri dengan taubat. Yang ketiga, bergaul dengan orang dengan akhlak yang baik.

Nasihat yang disampaikan pada kuliah shubuh ini sangat bermakna dan luar biasa.

Subhaanaka Allaahuma wa bihamdika, asyahadu Allaa ilaaha illaa anta wastaghfiruka wa atuabu ilaih
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)