Menikmati wawancara pada seleksi GTP

0
Setelah berulangkali mengikuti English Assesment di Surabaya, akhirnya bisa juga lolos dengan nilai yang cukup memuaskan. Saya hampir tidak percaya jika bisa melewati seleksi di tahap awal ini, bahkan agak pesimis ketika harus dipanggil untuk ke-3 kalinya. Namun sempat terhibur oleh candaan kawan saya, “kan sampeyan dapat SPPD 3 kali bro”, “eh, bener juga yah!” hahahahaaaa....

Tepatnya di bulan desember 2013, saya mendapatkan Notadinas panggilan untuk mengikuti tahap wawancara untuk program GTP (Global Talent Program) sebagai program International Expansion dari perusahan saya bekerja. Tak ada persiapan sama sekali untuk tahap ini, jika yang lain PD (Percaya Diri), saya lebih memilih PA (Percaya Allah) :D 


Datang agak cepat dari jadwal tes menuju ke tempat wawancara, ternyata sudah berlangsung untuk peserta dengan nomor urut pertama dan kedua. Sambil makan snack dan menikmati kopi yang sudah disiapkan panitia, ngobrol dengan rekan-rekan yang sudah duluan tiba. Ada juga yang begitu serius menyiapkan bahan wawancara, mungkin saja sudah dapat kisi-kisi atau trik untuk mengikuti tes ini. Beberapa menit kemudian, datang kawan satu lagi dari Manado, lengkap dengan catatan CEO Message dari edisi pertama sampai yang teranyar, busyett dah, gak kebayang sama sekali. Sambil melirik ke sacarik kertas dengan tulisan yang agak buram, persiapan kawan satu ini lumayan komplit. Saya cukup mendengarkan saja, barangkali memang ada yang ditanyakan untuk topik yang dimaksudkan tadi.


Setelah antrian ke-4, akhirnya giliran saya dipanggil setelah sholat zhuhur, alhamdulillah, ada kesempatan untuk bermunajat kepadaNya. Akhirnya dipanggil juga, awalnya sedikit gugup dan rada dingin telapak tangan saya. Ternyata si Ibu (pewawancara) kelihatan ramah dan bersahabat. Pertama diminta untuk memperkenalkan diri dengan singkat, sesuai dengan CV yang disetorkan ke panitia. Perlahan dengan penuh keyakin, menguraikan satu persatu data diri. Kemudian si Ibu bertanya, “apa saja yang pernah Anda lakukan ketika diberi amanah menjadi Koordinator OM?”. Langsung kujawab, “Sederhana saja, Bu. Tidak ada yang istimewa. Namun satu hal yang menjadi hal yang utama, bahwa semua pekerjaan akan terasa mudah dan ringan jika kita mendesain sebuah sistem, itu saya buat bu. Running by system, not running by people. Bisa dibayangkan dengan beban tanggung jawab yang besar untuk mengawal performansi Fiber Optik sepanjang 400KM hanya sendiri? Bisa keok dah. Itulah pentingnya manajemen sumber daya.


Dihujani pertanyaan demi pertanyaan tak terasa sudah 90 menit di dalam ruangan itu, padahal rekan sebelumnya ada yang 60 saja, bahkan ada yang 30 menit. Tetap PA deh... insyaALLAH lulus.


Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)