𝐃𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐲𝐚𝐡
Di dingin Batu, kabut merangkul kalbu,
Kutuliskan aksara, rindu yang lama membatu.
Wahai Syamil, permata di palung hati,
Simaklah bisikan ayah yang mulai dimakan hari.
Dahulu langkahku tegap, menantang badai dan angin,
Kini raga tak lagi selincah yang kau ingin.
Maafkan ayah yang hadir dengan sisa tenaga,
Membawa lelah di pundak, demi senyummu yang berharga.
Hidup ini, Nak, bak riak di atas telaga,
Seringkali tak seindah skenario yang kita jaga.
Kita melakoni takdir dalam lembaran yang misteri,
Berjalan di antara kerikil, mencari celah mentari.
Tumbuhlah engkau, melampaui tinggi cakrawala,
Jadilah jaya, petiklah bintang dengan segala rupa.
Meski ayah hanyalah jembatan yang mulai menua,
Doaku adalah sayap, agar kau sampai ke puncak mulia.
Ketahuilah, di setiap helai napas yang kian melambat,
Ada cinta mengalir, yang takkan pernah tamat.

Post a Comment
0Comments