Tahun 2018, saya dihadapkan pada keputusan besar—pindah tugas ke Tual, Maluku. Keputusan yang bukan hanya membawa saya ke tempat yang jauh, tapi juga memaksa saya untuk meninggalkan tanggung jawab sebagai ketua yayasan. Saat itu, perasaan berat hati menyelimuti. Saya harus meyakinkan pengurus lain agar amanah ini bisa dilanjutkan dengan baik. Butuh waktu satu tahun hingga akhirnya keputusan diambil, dan tongkat estafet kepemimpinan itu bisa saya serahkan.
Waktu terus berlalu, namun ingatan akan lembaga yang pernah kami bangun bersama tetap hidup. Di kedai kopi itu, di tengah hiruk-pikuk yang sederhana, kami berbincang panjang lebar. Bisman menceritakan perkembangan terbaru, tantangan yang dihadapi, serta harapan-harapan yang masih belum terwujud. Saya, sebagai pengurus lama, lebih banyak mendengar. Ada saat-saat ketika saya memberikan saran, ada pula saat di mana saya hanya mengangguk, mencerna segala informasi yang disampaikan.
Tidak banyak yang bisa saya tawarkan selain dukungan moral dan keyakinan bahwa apa yang telah kami mulai akan terus berkembang, meski jalannya tak selalu mulus. Di sela obrolan, kami menikmati secangkir kopi susu dan pisang goreng (toré). Rasanya seperti sebuah jeda dalam kehidupan yang sibuk, sebuah kesempatan untuk mengingat kembali kenapa kami memulai semua ini.
Diskusi santai itu lebih dari sekedar pertemuan dua sahabat. Itu adalah momen untuk menyadari bahwa meski kami tak lagi berada di tempat yang sama, hati kami tetap tertaut pada tujuan yang sama—membangun generasi yang lebih baik melalui lembaga yang pernah kami pimpin. Terima kasih, Bisman, untuk sore yang tak terlupakan ini.
Kotamobagu, 24 Agustus 2024

Post a Comment
0Comments