Malam yang berbeda

0
Kuakui, aku jarang meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan istriku. Bukan berarti tak pernah, hanya saja terlalu jarang. Kesibukan dan rutinitas sehari-hari sering kali menyita waktu kami, hingga momen kebersamaan pun terasa langka. Namun kali ini, takdir seolah memberikan kami kesempatan. Agenda kami berdua hampir bersamaan waktunya, meski di tempat yang berbeda di Makassar. Usai agenda malam itu, aku memberanikan diri untuk mengajaknya menikmati malam di tepi Pantai Losari.

Kesyahduan malam ini terasa begitu berbeda. Langit Makassar memamerkan warna-warna lembutnya, dengan bintang-bintang yang berkelip seperti saksi bisu perjalanan waktu. Kami berjalan berdua, menyusuri tepian pantai yang dipenuhi kenangan.

Aku tersenyum, mengingat masa lalu yang kini terasa begitu jauh. "Dulu, di awal 2000-an, aku sering datang ke pantai ini. Bukan untuk bersantai seperti sekarang, tapi untuk mencari nafkah. Aku harus mengamen, mengais rezeki dari kepingan koin yang dilemparkan orang-orang. Kadang hanya koin 100 atau 500 rupiah, dan berharap bisa mendapatkan selembar uang coklat."

Aku menarik napas dalam-dalam, mengenang masa-masa sulit itu. "Mungkin karena aku terlalu sibuk mengejar mimpi, sampai lupa menceritakan perjalanan menuju mimpi itu. Malam-malam seperti ini, dulu adalah waktu tersulit bagiku. Tapi di sisi lain, itu juga mengajarkanku tentang keteguhan dan harapan."

Makassar, 1 Juni 2024
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)