Ikhlas sangatlah dekat maknanya dengan ketulusan. Ikhlas juga menegaskan pentingnya 'memurnikan' tujuan dari setiap amal, hanya untuk Allah swt. Ikhlas itu memurnikan dari segala tekanan/upaya untuk mementingkan diri sendiri. Berbuat ikhlas, menerima segala realita kehidupan tidaklah mudah. Bahkan dalam sebuah riwayat, ketika Sayyidina Umar ra ditanya perihal 'ikhlas', maka beliau menggambarkan seperti ketika engkau melihat seekor semut hitam, di atas batu hitam, di malam gelap gulita. Segitu 'halusnya' arti sebuah keikhlasan, sehingga tak nampak oleh mata, seperti semut hitam tadi.
Para penulis kitab selalu menempatkan ikhlas di bab pertama, karena semua amalan itu tergantung dari apa yang diniatkannya. Dan niat itu tempatnya di hati, keikhlasan untuk melakukan yang terbaik. Jika niatnya tidak benar, maka sulit menerimanya dengan tulus dan ikhlas atas segala realita yang terjadi. Sehingga, niat pun harus dibangun dengan keikhlasan.
More you give, more you get. Tebarkan kebaikan dan kebenaran di mana pun kita berada, dengan siapapun kita berinteraksi, dan bagaimana pun pada akhirnya 'dia' akan membuat kita kecewa. Ketika seseorang menggantungkan harapan ke 'makhluk', maka kecewalah yang akan didapatkan manakala maksudnya tidak tercapai.
Dalam berkerja sehari-hari, mencari nafkah terbaik untuk keluarga tercinta, baik di kantor maupun di lapangan. Kita berupaya memberikan kontribusi terbaik, giving the best, dengan ketulusan melahirkan kebaikan. Mungkin saja tidak kita rasakan saat itu juga, tapi bisa dirasakan di kemudian hari, atau oleh orang-orang yang kita sayangi. Man jadda wa jada, sebuah motto hidup yang luar biasa, tidak mudah memiliki prinsip hidup seperti ini. Di tengah kehidupan yang serba pragmatis, di tengah hidup yang semakin tidak menentu. Yang kita yakini adalah, Allah swt tidak pernah melewatkan sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan. Ayo Lebih Baik!
Ketulusan seorang pemimpin dalam membangun visi peradaban, membangun karakter kepemimpinan serta proses coaching yang dilakukan kepada the next leader, yang bisa saja akan menggantikannya di masa mendatang. Sehingga tidak ada beban pada dirinya untuk menularkan segala potensi dan kompetensi yang dimilikinya, tidak khawatir jika suatu saat, 'murid' yang sudah sekian lama dididiknya akan lebih cepat dalam karirnya. Karena regenerasi yang baik dan tulus (tentunya) akan melahirkan kader pemimpin yang hebat, dan pasti berusaha untuk memberikan kontribusi yang terbaik. Bukankah ini adalah amal jariyah? Coba kita renungkan!
Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat diri dan orang-orang yang saya sayangi.
Kotamobagu, 8 Desember 2017

Post a Comment
0Comments