Setelah selesai final exam GTP di Surabaya akhirnya bisa menyempatkan diri untuk menjenguk orang tua di kampung. Sudah beberapa hari ini ibu sakit, tapi sang ibu tidak ingin diantar ke dokter untuk memeriksa kondisi tubuh.
Tiba jam 8 malam di Bandara Sultan Hasanuddin, saya langsung menelepon salah seorang supir angkutan umum yang biasa saya tumpangi ke Bone. Kebetulan memang jadwal beliau agak larut malam ke Bone. Dan deal, saya tunggu saja di workop di depan pintu keluar bandara. Janjian jam 11, katanya. Dan telat juga, hihihi...
Sekitar 5 jam perjalanan, sangat saya nikmati, nikmat betul gak terasa sudah dekat sampai di rumah. Saya tertidur selama perjalan, capek sekali, dan ploong juga sudah final exam. Tinggal menyelesaikan tugas essay yang diberi oleh tim penguji.
Pas adzan subuh, saya tiba. Melihat ibu masih tertidur, sangat lemah dan lesu keliatan. Ambil kain sarung di lemari, wudhu dan beranjak ke masjid. Jamaah tidak terlalu banyak, seperti biasanya.
Pulang dari masjid, bapak, ibu dan adikku sudah selesai sholat. Pagi-pagi sudah beraktivitas. Melihat piring di dapur masih berantakan, langsung saja dibereskan.
Tidak lama kemudian, saya berusaha membujuk ibu agar mau ke dokter. Setidaknya kami bisa mencari informasi lebih lanjut tentang penyakit yang sedang diderita. Tapi, beliau tetap menolak. Katanya baik-baik saja.
Nanti setelah beberapa hari berhasil merayu ibu agar mau ke dokter. Senin malam berangkat ke Kota, dr. Lili tujuan kami. Seorang dokter senior yang buka praktek di kota watampone. Setelah diperiksa, tekanan darah, kolesterol, asam urat, normal koq. Hanya gula darah saja yang sedikit berlebih. Dan saran dokter agar ibu tidak terlalu dibebankan pikirannya. Dan setelah diajak ngobrol, memang ibu saya rindu sekali dengan anaknya. Saya dan adik laki-laki memang jauh darinya. Maafkan kami ibu, kami tetap mencintaimu.
Tanete, 10 Maret 2015
Hari-hari yang penuh makna
11:24:00 PM
0
Tags:
Post a Comment
0Comments