Anak kami yang kedua, Amar

0



Amar, Benih Cinta dan Pendidikan Sejak Dalam Kandungan

Surabaya, 23 November 2013

Alhamdulillah...

Allah kembali menitipkan amanah yang begitu indah kepada saya dan istri.

Kami dikaruniai anak kedua.

Seorang putra.

Kami memberinya nama Andi Amar Yasir.

Amar lahir di Surabaya. Sejak masih berada dalam kandungan, kami ingin menanamkan benih cinta dan membekalinya dengan pendidikan, tentu sesuai dengan kemampuan kami sebagai orang tua.

Kenapa sejak dalam kandungan?

Karena ketika mengandung Amar, bundanya sedang berjuang menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Menjalani kuliah dalam kondisi berbadan dua tentu bukan sesuatu yang mudah.

Semakin hari, usia kehamilan bertambah.

Bobot janin pun semakin berat.

Naik beberapa lantai menuju ruang kuliah saja sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Tapi bundanya tetap menjalaninya.

Dalam hati saya sering berkata,

“Istriku, engkau sedang berjihad. Maka bersungguh-sungguhlah!”

Saya melihat perjuangan itu bukan sekadar menyelesaikan sebuah pendidikan.

Ada seorang ibu yang sedang belajar, sementara di dalam rahimnya ada seorang anak yang juga sedang bertumbuh.

Dua perjuangan berjalan bersamaan.

Dan akhirnya...

Amar lahir.

Seorang bayi kecil yang membawa kebahagiaan baru bagi keluarga kami.

Harapan kami sederhana.

Semoga kelak Amar tumbuh menjadi anak yang baik, berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Aamiin.


Amar dan Dunia Gadget

Saat tulisan ini dibuat, Amar sudah berusia sekitar dua tahun.

Dan ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya:

Gadget.

Hampir setiap hari dia berinteraksi dengan benda yang satu ini.

Sebagai orang tua, tentu kami tidak mungkin sepenuhnya menghindarkan anak dari perkembangan teknologi.

Yang bisa kami lakukan adalah mengarahkan dan mendampinginya.

Kami mencoba melihat sisi positifnya.

Di tablet milik bundanya, kami memasang berbagai aplikasi edukasi. Mulai dari belajar mengenal huruf, angka, sampai mewarnai.

Mungkin justru hal-hal itulah yang membuat gadget menjadi menarik baginya.

Di laptop juga ada berbagai video edukasi, seperti Syamil dan Dodo, serta lagu-lagu anak.

Tentu kami sadar, gadget memiliki dua sisi.

Ada manfaatnya.

Tapi ada pula dampak yang perlu diwaspadai.

Karena itu, bagi kami, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh menggunakan gadget.”

Yang lebih penting adalah:

Apa yang dilihat? Berapa lama digunakan? Dan apakah orang tua hadir mendampingi?

Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran orang tua.

Kami pun masih terus belajar.

Belajar memahami dunia anak-anak.

Belajar mengikuti perkembangan zaman.

Dan belajar bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa membiarkan teknologi mengambil alih masa kecil mereka.

Semoga Allah selalu menjaga kami sebagai orang tua.

Memberikan kesabaran, ilmu, dan kebijaksanaan dalam mendidik anak-anak.

Karena anak bukan hanya amanah untuk dibesarkan.

Mereka adalah amanah untuk dipersiapkan.

Semoga Amar tumbuh menjadi anak yang mencintai ilmu, dekat dengan agamanya, memiliki akhlak yang baik, dan kelak mampu memberikan manfaat bagi orang banyak.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)