Munajat Cinta

0
Tepat pukul 02.30 dinihari, malaikat penjaga tidur membangunkan saya untuk segera bermunajat. Padahal tidurnya belum lama, jika di-azzam-kan untuk bangun, insya Allah terbangun juga.

Nikmatnya bermunajat di sepertiga malam terakhir adalah hal yang istimewa bagi seorang hamba yang lemah ini, kemana lagi kita akan berkeluh kesah, menyampaikan segala yang menjadi beban hidup. Hanya kepada Dzat yang memberikan beban kepada HambaNya, yang mampu memberikan jalan keluar atas segala ujian ini. Bukankah ujian yang diberikan adalah sarana untuk dekat denganNya? Mintalah! Setelah selesai sholat, kucoba untuk bercengkerama dengan Al-Qu'ran. Tak terasa airmata berlinang, mentadabburi ayat demi ayat dalam suasana heningnya malam di sebuah Tababo, Belang, Minahasa Tenggara.

Terdengar suara adzan shubuh, sudah terdengar juga langkah kaki menuju ke sumber panggilan itu. Seperti biasanya di waktu shubuh tidak terlalu banyak jama'ah yang datang, hanya yang sudah berusia lanjut. Alhamdulillah, selalu diminta untuk jadi imam, memimpin sholat berjama'ah. Selalu menolak dengan alasan bacaan dan hafalan tidak terlalu bagus, tapi selalu saja diminta 'maju'.

Ada yang membuat saya kagum setiap sholat di Masjid Al-Munawwar, seorang pemuda, jama'ah biasa menyapa beliau 'Si Fian'. Walau mentalnya sedikit tidak normal, namun beliau selalu hadir untuk sholat berjama'ah ke masjid. Bahkan selalu menjadi yang pertama hadir di masjid. Subhanallah!

Sudah hampir 4 bulan berbaur dengan masyarakat di sini, walau hanya 1 atau 2 hari dalam sepekan. Setidaknya memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga, bagaimana berinteraksi dengan banyak orang. Masyarakat di Tababo sangat ramah, sesekali terpancar senyuman ikhlas dan mempesona.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)