Selepas bundanya ke Gorontalo, Syamil nampak kesepian. Akhirnya saya mengajaknya untuk berkeliling di seputaran Kotamobagu yang memang tidak terlalu luas juga. Ternyata Syamil tetap merengek agar bersamanya menyusul bunda ke Gorontalo. "Nanti aja kalau sudah tuntas pekerjaan, nanti kita menyusul ke Gorontalo" kata saya pada si Syamil kecil yang mungkin terlalu sukar mencerna kata-kata seperti itu. Tapi dia manggut-manggut saja pertanda setuju. Mau dibelikan kue tradisional kesukaannya, tetap tidak mau. Mau dirayu dengan cara apa, pikir saya sejenak. Perjalanan yang singkat ini berakhir di kantor. Seperti biasanya Syamil langsung minta ballpoint dan beberapa lembar kertas kosong.
Menulis dan menggambar adalah kebiasaan Syamil dalam mengisi waktu luangnya. Setelah belajar dan bermain di sekolah, langsung minta ballpoint dan kertas, walau seragamnya masih di badannya.
Setelah asyik menggambar, kira-kira 2 jam, akhirnya tertidur di sofa kantor, persis di depan meja kerja saya.
"Syamil mimpi apa yah? Sepertinya sedang mendesain sebuah #peradaban.
3/related/default
Post a Comment
0Comments