Rumah Baru, Kota Baru, dan Sebuah Malam Bersama Syamil
Selasa, 19 Februari 2013
Alhamdulillah...
Hari ini saya dan Syamil akhirnya bisa tidur di rumah kami yang baru, di sebuah desa kecil.
Kenapa saya sebut kecil?
Karena memang namanya Kelurahan Motoboi Kecil.
Kalau ada yang kecil, tentu ada yang besar.
Betul.
Ada juga Kelurahan Motoboi Besar.
Hehehe...
Rumah ini sebenarnya sudah bisa kami tempati sejak bulan sebelumnya. Hanya saja, pemilik rumah sebelumnya masih meminta waktu sekitar satu bulan untuk pindah.
Sehari sebelum ditempati, kami mulai bersih-bersih.
Ada beberapa hal yang masih harus dibenahi. Pompa air misalnya, masih perlu dipasang otomatis agar aktivitas di dapur dan kamar mandi menjadi lebih mudah.
Kemudian saya baru sadar...
Gordennya tidak ada.
Untungnya Sang Istri sudah mempersiapkan dua buah gorden.
Walaupun hanya cukup untuk kamar tidur, tidak masalah.
Yang penting malam ini saya dan Syamil sudah punya tempat untuk beristirahat dengan nyaman.
Namun baru sekitar satu jam berada di rumah, rasanya seperti sudah seharian.
Bosan.
Bukan karena rumahnya tidak nyaman.
Tapi karena ada yang tidak ada bersama kami.
“Dia.”
Istri dan anak kedua saya masih berada di Gorontalo. Mereka belum ikut ke Kotamobagu karena SK mutasi dari kantor belum juga diterima.
Dan ternyata...
sendirian itu juga bikin lapar, sodara! 😄
Biasanya sepulang kerja saya masih punya banyak urusan.
Tapi kali ini berbeda.
Pulang kerja langsung ke rumah.
Tidak seperti biasanya.
Saya menyalakan lampu teras.
Kemudian lampu ruang tengah.
Biar dari luar rumah terlihat seperti rumah yang berpenghuni.
Maklum...
Rumah baru, lingkungan baru, dan saya masih belajar beradaptasi.
Tak lama kemudian azan Maghrib berkumandang.
Syamil pun bersiap dan ikut ke masjid.
Saya melihat wajahnya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Semangat. Bahagia.
Mungkin bagi orang dewasa, pindah rumah adalah urusan tempat tinggal.
Tapi bagi seorang anak, rumah baru bisa menjadi sebuah petualangan baru.
Apalagi Syamil sudah hampir tiga minggu menemani saya tinggal di kantor.
Kami tidur di sebuah ruangan kecil, beralaskan kasur.
Sederhana sekali.
Lumayan...
Masih ada angin sepoi-sepoi dari ruangan sebelah yang ber-AC.
Hehehe...
Kini akhirnya kami punya rumah.
Ada kamar.
Ada ruang tengah.
Ada lampu teras.
Ada tempat untuk pulang.
Walaupun belum lengkap.
Walaupun masih jauh dari kata sempurna.
Tapi malam itu saya merasa bersyukur.
Saya melihat Syamil yang begitu bahagia.
Saya pun berkata dalam hati,
“Mari kita nikmati, Nak.”
Tidak perlu menunggu semuanya lengkap untuk merasa bahagia.
Tidak perlu menunggu rumah sempurna untuk merasa nyaman.
Karena kebahagiaan kadang justru hadir dari hal-hal sederhana:
sebuah rumah baru, seorang anak di samping kita, dan rasa syukur karena Allah memberikan tempat untuk pulang.
Alhamdulillah...
Selamat datang di rumah baru, Nak.

Post a Comment
0Comments