Hal yang jarang dilakukan antara saya dan ayah adalah ngobrol berdua, ya berdua saja. Ini momen yang penting dan berharga. Masih segar dalam ingatan saya saat-saat masih kecil dan butuh bimbingan dari seorang Ayah, beliau begitu sibuk mencari nafkah. Beliau memperjuangkan apa yang dicitakan agar kami anaknya bisa melanjutkan sekolah.
Dulu, Ayah punya usaha bengkel yang cukup ramai, dari situ pula sumber utama pencarian keluarga kami. Setiap Ayah mengangkat palu dan memutar kunci ring dan pas, setiap kali mengecat body mobil dengan penuh konsentrasi, dari sana pula saya belajar tentang kehidupan, tentang tanggung jawab, tentang rasa dan seni kehidupan. Beliau tidak mengajarkan secara verbal, tapi langsung dengan contoh dan tindakan. Bagaimana tanggung jawab sebagai seorang Ayah.
Ayahku terlahir dari keluarga yang terpadang dan sangat disegani di kalangan masyarakat. Adat istiadat dan budaya Bugis masih sangat kental di zamannya. Meskipun demikian, dia memilih untuk mandiri dan tidak ingin memanfaatkan segala fasilitas dan kemudahan yang boleh saja ditawarkan oleh pemerintah saat itu. Dia begitu kuat dalam memegang prinsip, tidak ingin bergantung pada orangtua. Dengan modal 'palu dang tang', dia berani mengambil langkah untuk mandiri bahkan menikah dengan gadis pujaan hatinya, yang notabene tidak dipandang sekufu kala itu. Tapi, wanita hebat itu layak diperjuangkan. Dia lah ibu kami sekarang, yang melahirkan putra putri terbaik.
Malam itu, di depan rumah, sambil menikmati kopi, kami bercerita berbagai hal. Salah satunya tentang rencana Ayah dan Ibu untuk ke tanah suci. Insya Allah, dengan segala upaya agar mereka berdua bisa berangkat, sejak 4 tahun yang lalu sudah mulai menabung. Alhamdulillah semua berkas juga sudah disiapkan, semoga bisa berangkat ke Baitullah dengan lancar.

Post a Comment
0Comments