Manado, 23 Maret 2012
Kisah ini aku tuliskan begitu penting bagi, semoga juga bagi sahabat yang mau mengambil pelajaran di dalamnya.
Sekitar jam 8 lewat 35 menit, tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata ada panggilan dari Mas Aris, teman pengajian. “Akh, kita lagi ngumpul nih, antum barangkali lupa. Malam ini ada LU di Rumah pak Ade”. Betapa kagetnya, karena menurut yang aku pahami dan yakini, agenda ini mesti adalah tsawabit dalam dakwah kami. Padahal di saat yang bersamaan, aku sedang mem-verifikasi laporan mitra yang sedang mengerjakan suatu proyek, yang juga tak kalah pentingnya. Akhirnya kuputuskan untuk segera menyelesaikan verifikasi dan segera ke Manado. Perkiraanku, berangkat dari sini (Tomohon) bisa sejam jika lalu lintas lagi padat.
Selama di perjalanan, selalu terbayang wajah-wajah saudaraku, yang pastinya saat ini menunggu kehadiranku. Ukhuwah yang selama ini terbangun begitu dekat, sehingga rasanya lebih dari saudara sendiri. “Apa yang keliru?” tanyaku dalam hati. Mungkin pesan yang dikirimkan oleh Mas Rendy tak kubaca hingga tuntas, wal hasil aku pun tak menyangka kalau ada agenda penting malam ini.
Sejam perjalanan, akhirnya tiba di kediaman pak Ade (begitu kami akrab memangginya). Di samping seorang ustadz/ pembina kami, beliau juga seorang motivator dan penulis buku yang handal. Kedatanganku disambut hangat oleh semua teman-teman. Senang rasanya bila bisa berkumpul, rasa capek seharian tak terasa jika melihat semuanya bahagia dan semangat.
Dalam pengajian rutin kali ini, sang ustadz menyampaikan tentang pentingnya lapang dada dalam setiap keputusan syura’/ rapat. Di tempat yang beda akan dilangsungkan pemilihan pemimpin daerah, dan yang selama ini diusahakan untuk masju adalah si A, ternyata di detik-detik terakhir pendaftaran ternyata yang diusung adalah si B. Begitulah hasil keputusan syura’, dengan pertimbangan banyak hal, dahsyat bukan? Namun yang lebih dahsyat lagi, si A begitu berlapang dada. Sikap inilah yang pantas ditiru, saya langsung teringat kisah Khalid bin Walid ketika harus digantikan oleh sahabat yang lain, ini adalah perintah Sang Khalifah saat itu, Umar bib Khattab. Apakah Khalid bin Walid kecewa dan putus asa? Ternyata tidak, karakter seperti inilah yang mungkin langka kita temui di masa sekarang. Bukan berarti si A disejajarkan dengan khalid bin Walid, namun kisah keduanya bisa menjadi pelajaran utuk kita semua.
Beginilah dakwah mengajarkan kami.
Beginilah dakwah mengajarkan kami.

Post a Comment
0Comments