Menikmati masa transisi perubahan

0

Kembali dari Timor Leste, Pulang dengan Sebuah Tanda Tanya

25 Juli 2014

Hari ini seharusnya menjadi hari terakhir penugasan saya di Timor Leste, sesuai dengan ketentuan dalam Nota Dinas Penugasan.

Namun karena harga tiket pada hari itu cukup mahal, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada 27 Juli.

Tujuan saya kali ini adalah Bone.

Sudah lama rasanya kami sekeluarga tidak merasakan Lebaran bersama keluarga besar di sana. Maka begitu ada kesempatan, rasanya ingin segera pulang dan menikmati suasana kampung halaman.

Beberapa hari pun kami lalui bersama keluarga.

Bertemu orang tua, saudara, dan keluarga besar. Menikmati suasana Lebaran yang sudah lama dirindukan.

Tapi di tengah kebahagiaan itu, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya.

Menurut informasi dari beberapa rekan kerja, akan ada perubahan struktur organisasi.

Dan kemungkinan besar, perubahan tersebut bisa saja membuat saya dipindahtugaskan ke lokasi lain.

“Wah... kemana lagi ya?”

Pertanyaan itu terus terlintas.

Setelah beberapa kali berpindah tempat karena pekerjaan, ternyata pertanyaan seperti ini sudah menjadi bagian dari perjalanan karier.

Ternyata masih di Kotamobagu

Tanggal 1 Agustus, saya mencoba mengecek portal untuk melihat posisi dan penugasan terbaru.

Alhamdulillah...

Ternyata saya masih tercatat bertugas di Kotamobagu.

Sedikit lega.

Namun ternyata ada perubahan juga.

Kelas kantor naik menjadi Kandatel.

Artinya, struktur organisasi berubah dan beban serta tanggung jawab pun ikut berpindah kepada pimpinan di unit tersebut.

Dan yang menarik, atasan saya juga berubah.

Kalau sebelumnya atasan berada di Manado, sekarang atasan langsung berada di Kotamobagu.

Saya pikir, mungkin ini awal dari fase baru dalam pekerjaan.

Salah lapor, salah informasi

Setelah libur panjang Lebaran selesai, saya langsung kembali ke kantor.

Karena pimpinan yang baru belum datang, saya melapor kepada atasan yang lama.

Saya pikir itu sudah benar.

Ternyata...

Salah.

Sudah hampir satu bulan saya kembali bertugas di Kotamobagu, ternyata pimpinan di kantor wilayah belum mengetahui bahwa saya sudah aktif kembali.

Beliau masih mengira saya berada di Timor Leste untuk menjalankan penugasan GTP.

Yah...

Begini rupanya kalau informasi tidak tersampaikan dengan baik.

Saya tentu mengakui ini sebagai sebuah kesalahan.

Tidak ada sedikit pun niat untuk membangkang atau mengabaikan perintah atasan.

Mungkin saya terlalu berbaik sangka.

Saya mengira informasi kepulangan dan kembalinya saya ke Kotamobagu sudah diketahui oleh pimpinan, atau mungkin sudah disampaikan oleh atasan yang lama.

Ternyata belum.

Dari sini saya kembali belajar bahwa dalam pekerjaan, komunikasi dan pelaporan tetap penting, meskipun menurut kita sesuatu itu sudah jelas atau mungkin sudah diketahui oleh pihak lain.

Kadang bukan karena ada yang sengaja mengabaikan.

Hanya saja, sebuah informasi mungkin berhenti di satu titik dan tidak pernah sampai ke tujuan.

Dan akhirnya, kita pun belajar dari sebuah kejadian sederhana:

Jangan hanya berasumsi bahwa orang lain sudah tahu. Pastikan informasi benar-benar tersampaikan.

Setelah perjalanan panjang dari Timor Leste, akhirnya saya kembali ke Kotamobagu.

Tempat kerja masih sama.

Tapi struktur, pimpinan, dan tanggung jawab sudah mulai berubah.

Dan saya pun kembali menjalani hari-hari berikutnya...

dengan sebuah babak baru.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)