Secangkir Kopi dan Amanah yang Tak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan

0


Secangkir Kopi dan Amanah yang Tak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan

Kotamobagu, 24 Agustus 2024

Sore itu, saya duduk di sebuah kedai kopi kecil di Kotamobagu.

Udara terasa sejuk. Aroma kopi perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan angin sore yang masuk dari sela-sela kedai.

Di hadapan saya ada secangkir kopi susu dan sepiring pisang goreng—atau yang biasa kami sebut torĂ©.

Sederhana.

Tapi sore itu, yang membuat pertemuan ini terasa istimewa bukan kopinya.

Melainkan seseorang yang duduk bersama saya.

Bisman, Bisman Simbuang

Kami kembali bertemu setelah sekian lama.

Sebelumnya, Bisman datang menghampiri saya di GraPARI Kotamobagu. Dari sana, kami kemudian menyempatkan waktu untuk duduk bersama, berbincang lebih lama, dan mengenang perjalanan yang pernah kami lalui.

Karena kami bukan sekadar teman.

Kami pernah berbagi sebuah amanah yang tidak ringan.


Sebuah Amanah yang Pernah Kami Bangun Bersama

Beberapa tahun lalu, kami bersama-sama mengurus sebuah lembaga pendidikan.

Sebuah lembaga yang saat itu mungkin belum sebesar sekarang.

Kami membangunnya dengan segala keterbatasan yang ada.

Ada tenaga yang dicurahkan.

Ada waktu yang dikorbankan.

Ada pikiran yang terus digunakan.

Dan tentu saja, ada doa serta harapan yang kami titipkan di dalamnya.

Hari demi hari, lembaga itu tumbuh.

Santri semakin banyak.

Aktivitas semakin berkembang.

Tanggung jawab pun semakin besar.

Kami belajar bahwa membangun sebuah lembaga pendidikan bukan hanya soal mendirikan bangunan atau menjalankan program.

Lebih dari itu, kami sedang ikut membentuk masa depan anak-anak yang dititipkan kepada kami.

Ada harapan orang tua.

Ada masa depan para santri.

Dan ada amanah yang harus dijaga.


Ketika Harus Pergi

Kemudian datang tahun 2018.

Saya mendapatkan keputusan untuk pindah tugas ke Tual, Maluku.

Jaraknya jauh.

Sangat jauh dari tempat saya menjalankan amanah selama itu.

Dan yang paling berat bukan hanya soal harus meninggalkan keluarga, teman, atau lingkungan yang sudah akrab.

Saya juga harus meninggalkan tanggung jawab sebagai ketua yayasan.

Saat itu, jujur saja, hati terasa berat.

Ada perasaan tidak enak untuk meninggalkan sesuatu yang sudah kami bangun bersama.

Bagaimana kalau setelah saya pergi lembaga ini tidak berjalan seperti sebelumnya?

Bagaimana dengan pengurus lainnya?

Bagaimana dengan para santri?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus ada di kepala.

Namun saya sadar, sebuah amanah tidak boleh bergantung pada satu orang.

Kalau sebuah lembaga hanya bisa berjalan karena satu orang, berarti ada sesuatu yang belum selesai dalam proses membangunnya.

Maka saya mulai berdiskusi dengan pengurus lainnya.

Meyakinkan mereka.

Mencari orang yang tepat.

Membangun keyakinan bahwa amanah ini harus tetap berjalan, meskipun saya tidak lagi berada di sana.

Tidak mudah.

Butuh waktu.

Hampir satu tahun sampai akhirnya keputusan itu benar-benar bisa diambil.

Dan akhirnya...

tongkat estafet kepemimpinan saya serahkan.

Saya pergi ke Tual dengan perasaan yang campur aduk.

Ada sedih.

Ada lega.

Ada khawatir.

Tapi juga ada keyakinan bahwa apa yang sudah dibangun bersama tidak akan berhenti hanya karena saya harus pergi.


Bertahun-tahun Kemudian

Waktu ternyata berjalan begitu cepat.

Tahun berganti.

Kesibukan datang silih berganti.

Tempat tugas berubah.

Orang-orang yang kita temui juga semakin banyak.

Namun ada beberapa hal yang tidak benar-benar pergi dari ingatan.

Salah satunya adalah lembaga itu.

Sore itu, Bisman menceritakan banyak hal.

Tentang perkembangan lembaga.

Tentang jumlah santri yang terus bertambah.

Tentang tantangan yang masih dihadapi.

Tentang berbagai rencana.

Dan tentu saja, tentang harapan-harapan yang belum terwujud.

Saya lebih banyak mendengarkan.

Sesekali bertanya.

Sesekali memberikan pandangan.

Kadang hanya mengangguk sambil menikmati kopi.

Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan.

Tetapi semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa tidak semua pertemuan membutuhkan banyak kata.

Kadang, mendengarkan adalah bentuk dukungan yang paling sederhana.


Secangkir Kopi, Pisang Goreng, dan Sebuah Kenangan

Di sela-sela obrolan, kami menikmati kopi susu dan pisang goreng.

Sederhana sekali.

Tidak ada agenda resmi.

Tidak ada rapat.

Tidak ada notulen.

Tidak ada target yang harus dicapai sore itu.

Hanya dua orang yang pernah berjalan bersama, kemudian duduk dan mengingat kembali perjalanan yang pernah mereka mulai.

Dan entah kenapa, suasana itu membuat saya kembali teringat pada alasan kami dulu memulai semuanya.

Bukan karena ingin dikenal.

Bukan karena ingin mendapatkan sesuatu.

Tetapi karena ada keyakinan bahwa membangun generasi adalah pekerjaan yang layak diperjuangkan.


Amanah Itu Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Saya mungkin sudah tidak lagi menjadi ketua yayasan.

Saya sudah tidak terlibat dalam keseharian lembaga seperti dulu.

Tetapi ternyata, meninggalkan sebuah amanah secara struktural tidak selalu berarti meninggalkannya secara emosional.

Ada bagian dari hati yang tetap tertinggal di sana.

Di antara ruang-ruang kelas.

Di antara suara para santri.

Di antara orang-orang yang masih berjuang melanjutkan apa yang dulu pernah kami mulai.

Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Kita tidak harus selalu berada di depan untuk tetap peduli.

Kadang kita cukup berada sedikit di belakang.

Memberikan dukungan.

Mendengarkan.

Memberikan saran ketika diminta.

Dan sesekali mengingatkan bahwa perjalanan ini pernah dimulai dengan sebuah niat baik.


Sore itu, pertemuan saya dengan Bisman akhirnya selesai.

Kopi sudah habis.

Pisang goreng pun tinggal piringnya.

Tapi obrolan itu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang dari secangkir kopi.

Sebuah pengingat bahwa ada perjalanan yang mungkin secara fisik sudah kita tinggalkan, tetapi secara batin tidak pernah benar-benar selesai.

Karena beberapa amanah mungkin berpindah tangan, tetapi tidak pernah benar-benar berpindah dari hati.

Terima kasih, Bisman.

Untuk sore yang sederhana.

Untuk cerita yang panjang.

Dan untuk mengingatkan kembali bahwa apa yang pernah kita bangun bersama masih terus tumbuh dan diperjuangkan.

Semoga lembaga itu terus berkembang.

Semoga para santrinya tumbuh menjadi generasi yang baik.

Dan semoga setiap langkah kecil yang pernah kita lakukan di masa lalu, menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir jauh setelah kita tidak lagi berada di sana.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)