
Gorontalo, 9 Juli 2012
Sebagai seorang ayah, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa mengantarkan anak ke sekolah.
Hari itu adalah hari pertama Syamil masuk sekolah. Saya sudah membayangkan pagi yang menyenangkan, mengantar anak dengan penuh semangat.
Ternyata kenyataannya tidak semudah itu. 😄
Membangunkan Syamil dari tidurnya ternyata butuh perjuangan.
Saya coba menyapanya,
“Syamil, mau sekolah atau tidur?”
Dengan santainya, tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab,
“Tidur!”
Saya dan istri langsung tertawa.
Wah, perang kecil dimulai.
Syamil mulai merengek karena merasa tidurnya diganggu. Setelah sedikit “perjuangan” dan bujukan, akhirnya dia mau juga bangun. Istri kemudian mengantarnya ke kamar mandi.
Eh, ternyata masalah belum selesai.
Gas elpiji di rumah habis!
Terpaksa saya keluar sebentar membeli gas. Sambil melihat ekspresi wajah istri yang seolah memberikan sebuah isyarat,
"Abi... gas dulu!" 😄
Setelah semua urusan pagi selesai, kami pun bersiap menuju sekolah.
Syamil akan memulai hari pertamanya di Raudhatul Athfal Terpadu Al-Ishlah (RAT Al-Ishlah), lembaga pendidikan di bawah naungan PPIT Al-Ishlah, yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat Kota Gorontalo. Para siswanya juga telah banyak menorehkan prestasi dalam berbagai perlombaan.
Karena ini hari pertama, mestinya siswa datang lebih awal. Banyak pengayaan dan bimbingan yang akan diberikan oleh pihak sekolah.
Tepat pukul 07.00, kami berangkat.
Tidak ada kendaraan yang siap digunakan.

Akhirnya pilihan jatuh kepada bentor.
Jarak sekolah dari rumah sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 kilometer.
Sesampainya di sekolah, ternyata semua siswa sudah mengikuti apel perdana.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak menyanyikan yel-yel khas Al-Ishlah.
Ibu guru bertanya,
“Apa kabar hari ini, teman-teman?”
Serempak anak-anak menjawab,
“Alhamdulillah... tubuhku, pikiranku, hatiku, fresh... fresh... fresh... luar biasa... Allaahu Akbar!”
Mendengar suara itu, tubuh saya seperti merinding.
Entah kenapa, ada rasa haru yang muncul.
Mungkin karena teringat masa-masa yang pernah saya lalui.
Hari itu Syamil masuk kelas A1.
Saya memperhatikan satu per satu anak-anak di kelas. Masing-masing seperti punya ciri khas sendiri.
Lalu saya berpikir,
“Kalau Syamil, apa ciri khasnya?”
Hehehe...
Hari pertama saja sudah kelihatan berbeda.
Ternyata Syamil belum kebagian seragam.
Hahahaha...
Dia berdiri dengan wajah polosnya. Tidak banyak protes. Seolah semuanya baik-baik saja.
Polos dan qana'ah.
Aamiin.
Kemudian tibalah saatnya orang tua diminta meninggalkan anak-anak di sekolah.
Guru-guru RAT Al-Ishlah meminta para orang tua segera pulang dan menitipkan anaknya kepada pihak sekolah, meskipun ini baru hari pertama.
Awalnya Syamil terlihat kurang percaya diri.
Saya kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya,
“Nak, PD itu tidak penting. Yang terpenting adalah PA.”
Dia tersenyum.
Mungkin belum mengerti apa maksudnya.
PD: percaya diri.
PA: percaya Allah SWT.
Bagi saya, percaya diri itu penting. Tetapi lebih penting lagi seorang anak tumbuh dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersamanya.
Oh iya...
Ada satu lagi ciri khas Syamil yang mulai saya sadari sejak kecil:
Irit bicara.
Berkomunikasi sesuai kebutuhan.
Tidak banyak basa-basi.
Hahahahaaaa...
Syamiiiiiilll!
Kemudian ibu guru memberikan tugas mewarnai.
Anak-anak yang lain langsung mengambil pensil warna dan mulai bekerja.
Tapi Syamil berbeda.
Dia justru memperhatikan kertas yang diberikan kepadanya.
Diam.
Mengamati.
Mencermati.
Sementara teman-temannya sudah mulai mewarnai, Syamil masih terlihat berpikir.
Mungkin dalam pikirannya sedang terjadi rapat penting:
"Warna apa yang cocok untuk gambar ini?"
Sok mikir. 😄
Tapi ternyata memang begitu caranya.
Pelan-pelan, tapi pasti.
Ia mulai menggoreskan pensil warna dengan hati-hati. Tidak terburu-buru. Setiap warna seolah dipilih dengan pertimbangan.
Beberapa saat kemudian, Syamil melambaikan kertasnya.
Selesai!
Saya yang mengamati dari kejauhan langsung melihat hasilnya.
Gambar masjid.
Perpaduan warnanya cukup indah.
Saya tersenyum.
Dalam hati saya berkata,
"Wah... Syamil memang jenius."
Alhamdulillah.
Tentu saja, namanya juga seorang ayah.
Anak sendiri selalu terlihat luar biasa. 😄
Yang paling membuat saya bahagia bukan hanya hasil gambarnya.
Tetapi perubahan yang saya lihat.
Awalnya ia terlihat kurang percaya diri.
Kemudian perlahan mulai berani.
Mulai menikmati suasana kelas.
Mulai mengikuti aktivitas bersama teman-temannya.
Dan saya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan.
Hari pertama sekolah ternyata bukan hanya hari pertama bagi Syamil.
Bagi saya sebagai seorang ayah, hari itu juga menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang: belajar melepaskan anak sedikit demi sedikit untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri.
Hari itu saya masih bisa mengantarnya.
Masih bisa melihatnya dari dekat.
Masih bisa membisikkan kalimat kecil untuk menyemangatinya.
Tapi saya tahu, suatu hari nanti Syamil akan berjalan sendiri.
Maka hari itu saya hanya berdoa:
“Ya Allah, bimbinglah anakku. Jadikan ia anak yang baik, kuat imannya, luas ilmunya, dan selalu percaya kepada-Mu.”
Karena ternyata menjadi seorang ayah bukan hanya tentang mengantarkan anak ke sekolah.
Tetapi juga tentang belajar melepaskan, sambil terus mendoakan dari belakang.
Iya deh.... ngaku.com
ReplyDeleteassalamualaikum , kami dari MAN INSAN CENDEKIA GORONTALO kami sedang melakukan penelitian Karya Ilmiah Remaja tentang MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU AL-ISHLAH GORONTALO SEBAGAI PILIHAN ORANGTUA UNTUK PENDIDIKAN ANAK. oleh karena itu kami ingin meanyakan bberapa hal:
ReplyDelete1. Menurut anda, bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia?
2. Mengapa anda memilih MI Al-Ishlah sebagai sarana untuk pendidikan anak?
3. Menurut anda apa keunggulan dari MI Al-Ishlah?
4. Apakah dengan kehadiran Al-Ishlah sudah dapat membantu perkembangan anak anda?
5. Bagaimana perkembangan anak anda setelah belajar di MI Al-Ishlah?
mohon bantuannya , jika masih ada orang tua siswa lainnya ingin berpartisipasi dalam mmberikan jawaban silahkan kirim lhannysanusi@yahoo.co.id/muftihatul.jannah@yahoo.com. terima kasih banyak, wasalm :)
Mbak Mufti, maaf anak kami masih di TK/ RA di Al-Ishlah...
ReplyDelete